BAGAIMANA
SEORANG MUSLIM BISA MENJADI TERORIS ?
Kelompok-kelompok
radikal juga terus menyebarkan paham radikalisme, melalui dunia maya,
selebaran, khotbah di masjid, bahkan melalui buku-buku bacaan untuk pendidikan
anak usia dini (PAUD). Lihat, begitu masifnya gerakan mereka.
Bisa jadi, diantara kita juga tidak sadar,
sudah terkena virus radikalisme itu. Mari kita coba cermati. Apakah kita masih
sholat? Masih menghormati antar sesama? Berbuat baik kepada siapa saja? Atau
jangan-jangan keluarga kita sudah ada yang terkena paham tersebut. Sebelum kita
pahami apa itu radikalisme, lihat perubahan disekitar kita. Apakah orang-orang
disekitar kita mulai ada perubahan sikap yang radikal?
Level 1.
Mereka ini
awalnya adalah orang² baik yg berusaha jadi lebih baik dg ikut
kelompok-kelompok pengajian.
Level 2.
Oleh guru
ngaji kelompok pengajiannya ditanamkanlah mana sikap² yg sesuai sunnah nabi
(berdasarkan versi mrk) , mana yg tidak nyunah. Mulai dari makan minum sambil
duduk, tidur berbaring ke kanan. Kalo ada laler masuk ke minuman tuh laler
dicelupin dulu ke air baru airnya bisa diminum.
Ngerembet ke
celana cingkrang, pake jenggot, jidat item, kalo ngobrol dg lawan jenis gak
boleh kontak mata. Wal hasil itu ditanamkan terus hingga mereka yg melakukan
itu semua merasa lebih "nyunnah" dari yg lain.
Belajar agama
dg orang² ini adalah SAMI'NA WA ATO'NA. nurut dg ajaran mrk sama dg nuruh
ajaran Nabi. Kritis dilarang. Beda cara beragama berarti ngga sesuai sunnah
nabi. Krn sumber sunnah Nabi harus berasal dari golongan yg sepemikiran dg mrk.
Mau dia kiyai, mau dia profesor lulusan
Mesir, gak peduli. Beda = Ngga sunnah.
Jangan heran
kalau ulama besar sekaliber Quraish Shihab,
KH Said Aqil, Gus Mus, dll
dianggap kalah ilmu dg ustad² yg ngajinya seminggu sekali dg murobi yg ilmunya
1 tahun di atas dia. Sekalipun dia mualaf (orang yg baru kenal Islam beberapa
tahun saja).
Level 3.
Dari sikap
paling sesuai sunnah, ngerembet ke sikap
lebih Islami dari yg lain. Mereka hobbinya teriak² "KAMI UMAT
ISLAM". Seolah-olah agama ini hanya
mereka yg punya, muslim yg lain ngontrak doang. Karena kurang Islam.
Kalau uda begini anda beda pilihan/pendapat dg
mereka langsung dianggap sesat, kafir,
bid'ah. Kadang thd orang tua/keluarganya sendiri sering konflik hny krn beda
cara beragama.
Level 4.
Dari menolak
perbedaan, sampai menganggap mereka yg beda itu musuh. Walau pun mereka satu
agama. Mereka merasa mewakili "Umat Islam" yg sedang dizolimi hingga
harus melawan. Musuh kelompok dianggap
musuh agama. Hingga membuat isu
hoax/fitnah/kebencian thd kelompok2 yg beda dianggap bagian dari perjuangan
agama.
Level 5.
Kebencian yg
mendalam thd kelompok yg berbeda, yg
dianggap kafir, dianggap dzolim, berubah
menjadi perilaku keras yg berujung terorisme. Membunuh mereka dianggap jihad
dan mereka bangga melakukannya.
Embrio
kelompok-kelompok ini mulai dari Rohis di sekolah² , kampus², kegiatan² masjid.
Sasarannya
adalah orang² baik yg polos. Mereka memilih serius belajar agama dan ingin jadi
pribadi yg lebih baik. Mereka mengira
guru² yg mengajarkan agama adalah orang² tulus, ikhlas & tidak punya
kepentingan apa pun spt dirinya. Guru yg sama yg mengajarkan
ma'rifatullah, ma'rifaturrasul, akhlaq,
shirah nabawi, tauhid adalah
orang yg sama yg juga mengajarkan kebencian dan membunuh saudaranya yg tidak
sepaham sbg ibadah. Sehingga ajaran kebenaran dan kebatilan terlihat sama.
Saran
saya, gunakan "AKAL" mu saat
akan berguru ke mana pun. Dengan akal kita bisa membedakan mana yg baik yg bisa
diambil ibroh/pelajaran, dan mana yg penting untuk dikritisi. Meski pun itu keluar dari GURU NGAJI. Akal itulah yg membedakanmu dg makhluk
lainnya, hingga ketika kamu belajar kamu
menjadi "Manusia" bukan malah menjadi "Domba" yg dicocok
hidungnya. Hidupmu spt zombie yg dikendalikan orang lain.
Kamu
diperintahkan Belajar Agama untuk menjadi menusia yg berilmu. Karna ciri orang berilmu itu pasti BIJAK
& TUJUAN AKHIR BERILMU AGAMA adalah TAWADLU & BERAKHLAQ MULIA thd
sesama. Bukan malah semakin sombong dan buas.
